40: Lanjutan Pembahasan tentang Meletakkan Tangan dan Bertolak Pinggang dalam Shalat

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                  Whatsapp              
     Grup Islam Sunnah | GiS
        *☛ Pertemuan ke-40*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓  JUM'AT
         03 Rabi'ul Akhir 1444 H
         28 Oktober 2022 M 

👤 Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. حفظه الله تعالى 

📚  *Kitab _Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha_ (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah*

💽 Audio ke-40: Lanjutan Pembahasan tentang Meletakkan Tangan dan Bertolak Pinggang dalam Shalat

══════════════════

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syekh Al-Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya _Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha_ (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

▫️

Syaikh Albani rahimahullah membahas tentang masalah: Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. 

وَ ❲ كَانَ يَضَعُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى ❳

"Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam biasa meletakkan tangan kanannya di atas 'kaf',"

_Kaf_ adalah (punggung) telapak tangan - yang kiri. 
Berarti seperti ini: di dada, kemudian meletakkan tangan kanannya di atas "kaf" (punggung telapak tangan). Ini model yang pertama; ini variasi yang pertama; cara yang pertama.
  
❲ وَالرُّسُغِ ❳

_Ar-rus'gh_ adalah ini (pergelangan tangan)

Atau seperti ini (tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri);
bisa meletakkannya seperti ini (telapak tangan di atas punggung telapak tangan kiri);
bisa meletakkannya seperti ini (tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri);
bisa meletakkannya seperti ini (pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri).

❲ وَالسَّاعِدِ ❳

_Saa'id_ adalah ini, bagian ini (lengan bawah)

Beliau biasa meletakkan tangan kanan Beliau di atas punggung telapak tangan kiri, atau pergelangan Beliau (ini pergelangan), atau lengan bawah kiri, lengan bawah kiri, lengan bawah bagian ini.
Jadi, ini variasi. Boleh dilakukan semuanya. 

 وَ ❲ كَانَ يَضَعُهُمَا عَلَى الصَّدْرِ ❳ .

"Dan Beliau dahulu meletakkan kedua tangannya di atas dada."

Kata-kata [ عَلَى الصَّدْرِ ]  "di atas dada" ini sangat jelas, menunjukkan bahwa Beliau dahulu meletakkannya di atas dada. 

Sehingga pendapat-pendapat yang menyelisihi lafal hadits ini menjadi lemah karena adanya hadits tersebut. 

Kemudian, tangan ini bisa hanya diletakkan di atasnya (punggung telapak tangan kiri); (atau) bisa dipegang, bisa dipegang seperti ini (tangan kanan memegang punggung tangan kiri); bisa hanya diletakkan saja. Ini juga variasi yang lain. 

Bisa seperti ini (telapak tangan kanan diletakkan di atas punggung telapak tangan kiri);
bisa seperti ini (tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri);
bisa seperti ini (tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri);
bisa seperti ini (pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri);
bisa dipegang (tangan kanan memegang lengan tangan kiri); 
bisa diletakkan saja. 

وَ ❲ كَانَ يَنْهَى عَنِ الْإِخْتِصَارِ فِي الصَّلَاةِ ❳

"Dan dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari tindakan bertolak pinggang dalam shalat." 

Ini tidak diperbolehkan di dalam shalat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dahulu melarangnya,  meletakkan kedua tangan di atas pinggang. Ini namanya [ إخْتِصَارِ ] _ikhtishaar_ bahasanya. Dan ini dilarang ketika kita shalat. 

Kenapa _ikhtishaar_ ini dilarang di dalam shalat? Karena disebutkan di sini: 

 وَهُوَ الصُلْبُ الَّذِيْ كَانَ يَنْهَى عَنْهُ . 

Bertolak pinggang ini dilarang, karena seperti bentuk penyaliban yang dulu pernah dilarang oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan ini, tindakan seperti ini, bentuk seperti ini (bertolak pinggang), sangat tidak selaras dengan sikap tunduk dan sikap merendah ketika sedang menghadap Pencipta. Makanya hal tersebut dilarang/diharamkan. 

Ketika kita shalat, kita sedang menghadap kepada Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Agung, Dzat Yang Maha Mulia, Dzat Yang menciptakan alam semesta ini. Makanya semua gerakan shalat menunjukkan ketundukan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga gerakan-gerakan yang bertentangan dengan nilai ketundukan, itu dilarang. 

Nanti kita akan mengetahui gerakan-gerakan di dalam shalat yang dilarang oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kalau kita lihat, larangan-larangan tersebut, kenapa dilarang? Karena bertentangan dengan nilai ketundukan. Misalnya: gerakan seperti duduknya anjing, ini bertentangan dengan nilai ketundukan. Misalnya gerakan seperti mematuknya burung, ini juga tidak sesuai dengan nilai ketundukan. 

Orang yang tunduk tidak melakukan demikian. Dia melakukannya dengan sempurna. Dia melakukannya dengan tenang. Sedangkan tindakan atau sikap mematuk seperti mematuknya burung, ini bertentangan dengan nilai ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Seperti misalnya ini, bertolak pinggang, ini sangat tidak sesuai dengan nilai ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang ada di depan kita. Kita sedang menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala (Dzat Yang Maha Agung) tersebut. Gerakan seperti ini sangat tidak selaras dengan nilai ketundukan, sehingga hal tersebut diharamkan. Kemudian, gerakan seperti menderungnya unta, ini juga tidak sesuai dengan ketundukan. Maka dilarang hal tersebut. 

Intinya, semua gerakan yang tidak sesuai dengan nilai ketundukan, dilarang di dalam shalat. Maka ketika kita di dalam shalat, kita lakukan dengan sangat baik, dengan sangat tunduk, kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita juga tidak boleh misalnya melihat langit di dalam shalat karena itu bertentangan dengan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita harus melihat ke bawah, karena ini yang sesuai dengan ketundukkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

▫️

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

 وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

🌏 WebsiteGiS: https://grupislamsunnah.com
📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

167: Pembahasan tentang Redaksi Bacaan Tasyahud ~ Riwayat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu

193: Doa sebelum Salam dan Ragam Bacaannya ~ Doa Ketujuh dan Kedelapan

196: Amalan Bulan Dzulhijjah ~ Berpuasa (Bagian 2)