37: Pembahasan tentang Takbiratul Ihram Bag 02

╔══❖•ೋ°📖° ೋ•❖══╗
                  Whatsapp              
     Grup Islam Sunnah | GiS
        *☛ Pertemuan ke-37*
╚══❖•ೋ°👥° ೋ•❖══╝

🌏 https://grupislamsunnah.com/ 

🗓  SELASA
         30 Rabi'ul Awwal 1444 H
         25 Oktober 2022 M 

👤 Oleh: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. حفظه الله تعالى 

📚  *Kitab _Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha_ (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya) karya Asy Syekh Al-Albani Rahimahullah*

💽 Audio ke-37: Pembahasan tentang Takbiratul Ihram Bag 02

══════════════════

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

Kaum muslimin dan kaum muslimat yang saya cintai karena Allah, khususnya anggota GiS -Grup Islam Sunnah- yang semoga dirahmati dan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan bersama-sama mengkaji sebuah kitab yang sangat bagus yang ditulis oleh Asy Syekh Al-Albani rahimahullah, yakni kitab Sifat Shalat Nabi atau sebagaimana judul aslinya _Shifatu Shalatin Nabiyyi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Minattakbiri Ilattaslim Ka-annaka Taraha_ (Sifat Shalat Nabi mulai dari Takbir sampai Salamnya Seakan-akan Anda Melihatnya). 

▫️

Syaikh Albani rahimahullah membahas tentang Takbir. Beliau mengatakan, 

 وَ ❲ كَانَ إِذَا مَرِضَ ❳

"Dan dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau sakit"

❲ رَفَعَ أَبُو بَكْرٍ صَوْتَهُ ❳

"Abu Bakar mengangkat suaranya"

❲ حَتَّى يُسْمِعَ مَنْ خَلْفَهُ، يُبَلِّغُ النَّاسَ تَكْبِيْرَهُ ﷺ ❳ .
 
"Sahabat Abu Bakar mengangkat suara takbirnya untuk menjadikan manusia yang lain mendengar takbirnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam." 

Ini dalil disyariatkannya mengulang takbirnya imam dengan suara yang keras agar makmum mendengar. Bukan berarti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengucapkan takbirnya, tapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika shalat suara Beliau menjadi lemah. Padahal makmum Beliau banyak. Ketika makmum Beliau banyak, maka yang di belakang apabila suaranya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam rendah/lemah karena Beliau sakit, maka butuh orang lain untuk menyampaikan gerakan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Agar mereka tahu gerakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, harus ada suara yang sampai kepada makmum yang jauh. Makanya sahabat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mengangkat suaranya. 

Ini disyariatkan kalau imamnya suaranya lemah dan tidak sampai kepada makmum (makmum yang jauh). Kalau sudah sampai, tidak perlu. Yang sesuai dengan sunah adalah yang demikian. 

Jadi menyampaikan suara imam kepada makmum yang jauh, itu disyariatkan ketika dibutuhkan. Ketika tidak dibutuhkan, maka tidak disyariatkan. 

Seperti misalnya sekarang, orang sekarang walaupun makmumnya sebanyak apapun, sudah cukup dengan mikrofon. Karena suara dia sudah sampai ke makmum yang paling belakang, bahkan sudah sampai keluar masjid. Sehingga tidak perlu lagi ditambahi dengan suara orang lain untuk menyampaikan suara tersebut kepada makmum yang terjauh, karena semuanya sudah tahu. 

Makanya di zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam praktiknya juga demikian. Kalau Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suaranya bisa keras, maka tidak ada yang menyampaikan suara Beliau; tidak ada yang mengulangi agar makmum yang paling jauh mendengar suara Beliau. Tidak ada. Tapi sahabat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mengulangi suara Beliau (suara takbir Beliau), ketika suara Beliau lemah. Sehingga dimungkinkan makmum yang terjauh tidak mendengar suara Beliau. 

وَكَانَ يَقُوْلُ : ❲ إِذَا قَالَ الإِمَامُ : اللَّهُ أَكْبَرُ ؛ فَقُوْلُوا : اللَّهُ أَكْبَرُ ❳ .

Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengatakan: "Apabila seorang Imam mengatakan/mengucapkan Allahu Akbar, maka ucapkanlah Allahu Akbar."

Ini menunjukkan bahwa takbir ini tidak hanya wajib bagi imam saja, tapi juga wajib bagi makmum. Makanya makmum ketika bertakbir terutama takbiratul ihram, ucapkanlah dengan lisan, jangan hanya dengan hati. Karena "perkataan hati" bukan "ucapan". Yang dimaksud dalam bahasa Arab "ucapan" itu hanya khusus lisan saja. Kalau orang Arab ingin mengatakan ucapan hati, mereka akan menambah, menambah batasan dengan menambah kata-katanya: "ini ucapan hati". Tapi kalau hanya "ucapan" saja, yang mereka maksud adalah "ucapan lisan". 

Kemudian, kalau tadi kita lihat dari awal sampai akhir dalil-dalil yang disebutkan oleh Syaikh Albani rahimahullah, tidak ada satupun dalil-dalil tersebut yang mengubah kata-kata "Allahu Akbar" dengan kata-kata yang lain. Walaupun misalnya ada kata yang lain yang bisa mewakili Allahu Akbar, ini tidak disyariatkan. Karena tidak pernah satu kali pun Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam mengganti kata-kata Allahu Akbar dengan kata-kata yang lainnya. Misalnya dengan mengatakan Arrahmaanu Akbar. Ini bisa mewakili tapi tidak disyariatkan. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dahulu tidak pernah melakukan hal yang seperti ini. Misalnya lagi, Arrahiimu a'dzam, tidak diperbolehkan. Karena apa? Karena kita shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. 

[ صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي ] 

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." 

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah satu kali pun mengganti lafal takbirnya dengan lafal takbir yang lain dan Beliau hanya mencontohkan "Allahu Akbar", maka itulah yang disyariatkan. 

Ustadz, bagaimana kalau dengan bahasa Indonesia "Allah Maha Besar"?
Kita katakan: tidak boleh, walaupun makna tersebut mewakili lafal Allahu Akbar. Makanya tidak boleh kita -misalnya- mengganti bacaan Al-fatihah dengan terjemahnya. Walaupun bisa mewakili, tetap saja tidak diperbolehkan karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dahulu shalatnya tidak demikian. Mengganti dengan bahasa Arab pun yang semakna, ini tidak diperbolehkan, apalagi mengganti dengan bahasa lain. 

▫️

Demikianlah yang bisa kita kaji pada kesempatan kali ini. Semoga  menjadi ilmu yang bermanfaat dan diberkahi oleh Allah Jalla wa 'Alaa. 

InsyaaAllah kita akan lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. 

 وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


══════ ∴ |GiS| ∴ ══════  

📣 Official Account Grup Islam Sunnah 

🌏 WebsiteGiS: https://grupislamsunnah.com
📱 Fanpage: web.facebook.com/grupislamsunnah
📷 Instagram: instagram.com/grupislamsunnah
🌐 WebsiteGBS: grupbelanjasunnah.com
📧 Telegram: t.me/s/grupislamsunnah
🎥 YouTube: bit.ly/grupislamsunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

167: Pembahasan tentang Redaksi Bacaan Tasyahud ~ Riwayat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu

193: Doa sebelum Salam dan Ragam Bacaannya ~ Doa Ketujuh dan Kedelapan

196: Amalan Bulan Dzulhijjah ~ Berpuasa (Bagian 2)